Teori Tukang Parkir

Terpasung duduk pada posisi tengah didalam kendaraan menjelang malam hari dari kota duri menuju kota Pekanbaru, saat saya berperan sebagai penumpang pada perjalanan yang biasa ku tempuh. Dunia Maya bernama Facebook saat itu sejenis Drugs untuk selalu diakses kala waktu senggang. Emm..signal pun tak jadi masalah sambil mengaktifkan password–nyaman rek-

trink…Terpampang sebuah status berupa cacatan dari seorang teman di minas mengenai teori tukang parkir -sepertinya dalam hati – sejenis roti apa yah? hehe…. Cepat jempol mengakses dengan menekan keypad HP untuk melanjutkan teori ditemani setiap guncangan kendaraan mengenai lobang jalanan yang dilalui menceritakan……

Tadi sore saat Adzan maghrib berkumandang secara tidak kebetulan (*karena saya meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan ^_^) masih berada di luar rumah, jadi saya berbuka puasa di pinggir jalan, saya membatalkan puasa dengan minuman botol yang dijual dipinggir jalan,dan beberapa tahu goreng yang dijual disebelah penjual minuman ,saat saya berbuka puasa ada seorang tukang parkir yang juga berbuka puasa di tukang minuman tersebut ,beberapa saat kemudian saya bertanya sama bapak itu ‘dimana mushola yang terdekat?’ .Bapak itu ternyata adalah penjaga parkiran kendaraan yang ada tepat dibelakang saya duduk, kemudian Bapak penjaga parkir mengajak saya untuk pergi ke Pos parkirnya yang berukuran 3X3 untuk sholat maghrib berjama’ah.

Setelah sholat maghrib berjama’ah kami berkenalan *nama Bapak itu Trisno ,lalu kami lanjutkan dengan sedikit berbincang santai, sekalian untuk memberi kesempatan kepada makanan dan minuman yang baru saja kami gunakan untuk berbuka agar sampai dengan selamat dan normal di tempat tujuan . Pak Trisno lebih banyak bercerita daripada saya, dan sayapun senang mendengar ceritanya ,mulai dari tentang anaknya,keluarga,sampai tentang pekerjaan PAk Trisno sebagai penjaga parkiran .ada percakapan dan kata-kata Pak Trisno yang membuat saya tercengang.

Saat Pak Trisno cerita tentang pekerjaanya sebagai penjaga parkiran kendaraan. Pak Trisno bilang dia banyak belajar tentang kehidupan dari pekerjaanya itu, dan yang paling membuat saya terkagum-kagum saat Pak Trisno bercerita “bahwa pekerjaan saya ini banyak mengilhami saya dalam belajar ikhlas ‘den (dia memanggil saya dengan sebutan ‘den’ *entah itu raden, atau dendeng ^_^) saya hanya manggut-manggut menyimak.

Setiap hari banyak sekali sepeda motor dan mobil yang keluar masuk tempat parkiran yang dijaganya setiap hari ,berbagai macam type , mulai dari motor/mobil butut(tua),yang sedang , bahkan sampai MOtor GEde (MOGE) atau mobil HI-class sekalipun ,semua masuk dan parkir disini,saya terima dengan sangat ikhlas, apapun bentuknya,tak peduli berapapun nilai harganya, berapapun lamanya,tak peduli itu hanya beberapa menit atau berapa jam sekalipun. saya akan menerimanya dengan senang hati,dan akan saya jaga sebaik-baiknya amanat yang dipercayakan kepada saya,saya menjalani pekerjaan ini dengan senang hati ,saya menjaga setiap titipan dengan sepenuh kemampuan saya. dan ketika sang pemilik datang dan mengambil kembali titipan-titipannya sayapun melepasnya dengan ikhlas dan senang hati ,bahkan saya merasa sangat bahagia karena telah menjalankan tugas saya untuk menjaga titipan-titipan itu semampu saya”.

”terkadang saya juga sering berfikir, seandainya saya bisa menerapkan keikhlasan saat TUHAN menarik semua titipan-titipan-NYA dari genggaman saya… ,tapi ternyata sangat sulit…gak semudah mengikhlaskan titipan kendaraan-kendaraan yang saya terima setiapa hari,hehehehe,,,namanya juga manusia ya den?.. ego-nya selangit” (kata Pak Trisno sambil tertawa kecil).

saya terdiam sesaat dan berfikir saat mendengar kalimat-kalimat terakhir yang keluar dari mulut Pak Trisno itu. “ikhlas” ,kata yang mudah di ucap…tapi untuk mengaplikasikanya….hmmmmmm…luar biaaaasaaaa sulitnya .seandainya saja kita bisa menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa semua pemberian-NYA hanyalah sebuah titipan yang sewaktu-waktu dengan mudahnya bisa diambil kembali oleh SANG PEMILIK . mungkin kalau kita menanamkan itu di diri kita, kita tidak akan sering merajuk kepada SANG MAHA ketika DIA mengambil milik-NYA kembali dari genggaman kita.

Kemudian setelah kami selesai berbincang singkat, sayapun pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang, lagipula Pak Trisno harus melanjutkan pekerjaan mulianya tersebut, menjaga amanat-amanat si pemilik kendaraan dengan sebaik-baiknya.

Do’a Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA :
”Ya Allah letakanlah dunia di tangan ku, dan jauhkanlah ia dari hatiku”
JELATANG
Salam Penuh Cinta Untuk Semua PeCinta-Nya
http://quantumillahi.wordpress.com/2010/10/13/belajar-ikhlas-dari-tukang-parkir/

Tersadar mendekati kota kandis cerita ini berakhir. sejenak lampu HP meredup dan Menerawang cerita serta pinjaman-pinjaman yang ALLAH s.w.t titipkan kepada ku -Yaa..Allah jadikanlah aku sebagai muslim yang selalu berusaha menjadikan segala Keputusaan dan Rencana Mu adalah yang terbaik buat ku dan orang-orang disekitarku.-

2 thoughts on “Teori Tukang Parkir

  1. subHanallah … Allah maHa penyayang bagi umatnya .. sedih, haru dan banyak hikmah dan pelajaran dalam hidup ini … smoga qt slalu menjadi org yg slalu mendapatkan keberkahan dlm hidup ini …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s